Tanggal 11 Desember pada masa kekuasaan rezim orde baru, selalu diperingati sebagai hari berkabung bagi rakyat Sulawesi Selatan. Betapa tidak, hari itu merupakan awal dari peristiwa teror tentara Belanda yang berintikan Pasukan Khusus atau Corps Speciale Troepen (jumlah anggota 123 orang), pimpinan Kapten KNIL Raymond Paul Pierre Westerling. Tragedi memilukan ini, berlangsung selama kurang lebih lima bulan yakni hingga ditariknya kembali pasukan Westerling dari Sulawesi Selatan pada tanggal 22 Mei 1947.
Berdasarkan catatan sejarah menunjukkan bahwa aksi kekejaman ini berlangsung, pasca Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van Mook memaklumkan keadaan darurat perang pada sebagian besar daerah Sulawesi Selatan. Sederet daerah yang dimaksudkan antara lain: Kotapraja Makassar, Afdeling Makassar, Bonthain (Bantaeng), Pare-Pare dan Mandar.
Serentak dengan itu, prakondisi yang menjadi motif terjadinya aksi teror ini juga terkait dengan perintah Panglima KNIL di Jakarta Jenderal S. Spoor, Komandan KNIL di Sulawesi Selatan, Kolonel H.J. de Vries yang mengeluarkan surat perintah harian pada tanggal 11 Desember 1946 kepada seluruh jajaran tentara Belanda di bawah komandonya. Isi perintah itu yakni operasi pasifikasi atau pengamanan berdasarkan keadaan darurat perang dengan tindakan tegas, cepat, dan keras tanpa kenal ampun dengan melaksanakan standrecht atau tembak di tempat tanpa proses.
Dalam rangkaian proses pembantaian secara sadis ini, diprediksi menelan korban sekitar 40.000 orang (rakyat) Sulawesi Selatan. Dengan demikian, kejadian ini kemudian pepoler dengan sebutan Peristiwa Korban 40.000 jiwa. Bahkan untuk mengenang peristiwa bersejarah ini, maka pada sebuah lokasi di sudut kota Daeng (Makassar) dapat disaksikan sebuah bangunan berupa monumen sekaligus peristiwa ini diabadikan dalam penamaan sebuah jalan di kota ini.
Meskipun demikian, pasca orde baru yang kemudian diberi label orde reformasi, tampak gaung, gema, dan ”sakralitas” peristiwa bersejarah ini nyaris hilang. Dapat diprediksi bahwa pembiaran atas berlalunya peristiwa ini begitu saja tanpa peringatan, suatu saat akan hilang dari memory kolektif masyarakat Sulsel. Lalu dari manakah akar penyebab memudarnya keingintahuan dan kesadaran historis orang terhadap peristiwa maha penting ini harus digali?.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka tentu menarik dihubungkan dengan persoalan lahirnya multitafsir terhadap peristiwa ini. Akhirnya, ketidakjelasan dan samar-samarnya kepastian tentang kejadian sebenarnya pada gilirannya mengurangi daya pikat untuk mengungkapkannya. Bahkan persoalan yang tidak kalah menarik, yakni peringatan peristiwa ini oleh banyak kalangan dianggap sama artinya menceritakan aib dan siri’ kita.
Korban 40.000 Jiwa dalam Multitafsir
Peristiwa sadis sebagai buah dari aksi pasifikasi di Sulawesi Selatan yang oleh Westerling disebutnya ”Doden Mars” (perjalanan ke neraka) ini, rupanya telah ditafsirkan beragam berdasarkan sudut pandang masing-masing. Sebut saja ada di antara mereka yang memandang peristiwa itu sebagai klimaks dari proses perjuangan rakyat Sulawesi Selatan untuk menegakkan kemerdekaan.
Mereka yang berpandangan seperti ini, tentu berangkat dari asumsi bahwa peristiwa yang menelan ribuan korban jiwa ini merupakan pertanda (bukti) betapa orang-orang Sulsel rela berkorban untuk tanah tumpah darah mereka. Dengan kata lain bahwa tragedi ini dianggap sebagai bagian penting dari semangat patriotisme dan nasionalisme orang-orang Sulsel.
Buntut dari pandangan seperti itu, akan membawa seseorang pada dukungan tentang pentingnya memperingati peristiwa ini. Maksudnya, pengorbanan yang telah diberikan oleh para pendahulu tersebut perlu dihidupkan melalui kesadaran historis dalam wujud pengorbanan baru untuk membangun bangsa ini.
Pandangan lainnya menganggap bahwa Hari Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan, sesungguhnya tidak perlu terlalu dibesar-besarkan apalagi memperingatinya. Hal ini berangkat dari asumsi bahwa peristiwa 11 Desember 1946 itu merupakan bagian dari harga diri orang-orang Sulsel. Betapa tidak, peristiwa pembantaian ini dilakukan Belanda tanpa perlawanan dan seolah rakyat sang pemilik nilai normatif bernama siri’ ini berada dalam ketidakberdayaan.
Selain itu, muncul pula keraguan akan persitiwa ini terkait dengan jumlah korban yang seolah telah dipolitisir secara kuantitatif dan terlalu dibesar-besarkan secara kualitatif. Betapa tidak, jika merujuk pada angka korban jiwa yang menunjuk 40.000 orang, berarti dalam masa satu bulan Westerling membunuh 10.000 jiwa atau setiap hari 330 jiwa melayang. Di sinilah yang dianggap oleh banyak orang kurang bahkan tidak rasional, jika dihubungkan dengan karakter orang-orang Sulsel yang terkenal pemberani.
Meskipun demikian, bagaimana dengan anggapan bahwa korban yang jatuh selama peristiwa pembantaian ini berkisar 30.000-an dan malah ada yang menyebut jumlah 60.000 jiwa?. Malahan angka 40.000 dianggap sebagai angka pertengahan yang kemudian dijadikan angka politis psikologis sebagaimana diungkap oleh Sarita Pawiloy, sang penulis buku Arus Revolusi 45 di Sulawesi Selatan (1987).
Masih Perlukah Diperingati?
Lahirnya multitafsir dengan ragam persepsi terhadap peristiwa korban 40.000 jiwa tersebut, kemudian melahirkan pertanyaan baru yakni masih perlukah ia diperingati sebagai hari bersejarah?. Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita berkaca pada kebiasaan orang-orang Jepang yang tidak pernah menganggap Kuil Yasukuni sebagai tempat yang melecehkan harga diri mereka.
Sekadar digambarkan bahwa Yasukuni merupakan tempat yang menyimpan sebuah collective memory berupa luka lama yang hingga kini sulit terlupakan. Betapa tidak, di kuil yang dibangun tahun 1869 ini dimakamkan sekitar 2,5 juta orang Jepang yang gugur selama perang berlangsung. Demikian pentingnya tempat pemakaman para pahlawan yang terdiri atas prajurit, perawat, dan kaum terpelajar ini, sehingga banyak orang Jepang menganggapnya sebagai tempat yang patut dikunjungi untuk memberikan doa.
Simbol kekerasan (violence), juga dapat diketahui melalui kisah sebuah Piramida di Mexico. Dalam buah penanya Peter Berger (1974) berjudul Pyramids of Sacrifice: Political Ethnics and Social Change, menceritakan tentang piramida di Cholula ini sebagai peninggalan orang Indian-Aztec lima abad yang lalu. Tempat ini menurut catatan sejarah, pun terkenal menyimpan serangkaian kisah mengenaskan yang dialami oleh umat manusia.
Betapa tidak, proses pembangunan piramida ini menggunakan tenaga budak yang jumlahnya ribuan dan konon diantara mereka banyak yang mati baik karena kelaparan, kecelakaan, maupun karena siksaan dari para prajurit kaisar. Tidak hanya itu, wujud penyembahan pada dewa dalam wajah ritual berdasarkan kepercayaan penguasa Aztec, juga menelan korban manusia dimana bentuk sesajian persembahan itu adalah darah manusia. Tujuan persembahan ini yakni agar alam semesta selalu terjaga sekaligus merupakan pertanda abadinya kekuasaan sang kaisar.
Mencermati keberadaan Piramida di Cholula Mexico yang menyimpan serangkaian kisah tragis umat manusia dan Kuil Yasukuni yang dianggap sebagai simbol kekejaman, maka posisinya hampir sama dengan monumen korban 40.000 jiwa di Makassar sebagai simbol pembantaian. Karena itu, penting atau tidaknya diperingati terletak pada persoalan spirit yang dijadikan sebagai pilar argumen.
Maksudnya bahwa angka 40.000 jangan dianggap sebagai simbol kekalahan dan ketidakberdayaan orang-orang Sulsel yang dengan mudahnya dibantai. Sebaliknya, dianggap sebagai motivasi perjuangan untuk menyuluh semangat para pejuang, sebagaimana ungkapan bahwa ”sudah 40.000 jiwa yang menjadi korban kekejaman Belanda”. Ungkapan ini mengandung makna ajakan untuk semakin gigih berjuang.
Bukankah Barbara Sillars Harvey (1989) pun pernah menduga bahwa pada mulanya istilah kerugian atau korban mungkin mencakup tidak hanya yang meninggal akan tetapi juga yang terluka dan pengungsi, meski belakangan menjadi keperyaaan umum dan dogma resmi di Republik Indonesia bahwa 40.000 orang telah tewas di Sulawesi Selatan selama kampanye pasifikasi Westerling.
Akhirnya, di tengah sunyinya perbincangan dan peniadaan rangkaian acara peringatan hari Korban 40.000 jiwa ini berarti proses berdamai dengan sejarah sudah terjadi. Bahkan hal ini sama artinya Westerling sudah dimaafkan.***
Pernah Dimuat pada harian Fajar, 11 Desember 2010.
Rabu, 17 Februari 2010
Makna Historis hari Valentine
Sebagaimana layaknya sebuah hari raya yang dinanti dengan sejumlah perasaan gembira oleh penganut agama tertentu, Valentine’s day pun selalu disambut hangat oleh pemujanya setiap tahun. Hal ini tampak pada ragam persiapan berikut serangkaian acara yang mengiringi peringatan hari yang romantis ini.
Secara historis Valentine's Day (hari Valentine) yang jatuh pada 14 Februari, merupakan sebuah hari dimana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan isi hatinya. Tradisi warisan masyarakat Dunia Barat ini, diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk "Valentines".
Peringatan Hari Valentine awalnnya merupakan tindak penghormatan atas jasa seseorang bernama Santo Valentine. Beliau adalah seorang pastor yang hidup di tengah kekuasaan Kaisar Claudius II di Romawi yang terkenal sangat kejam. Dalam menjalankan rezim otoriter yang dipimpinnya, konon sang kaisar sangat mementingkan kekuatan militer tangguh.
Untuk kepentingan itulah maka para pemuda dianggap sebagai aset yang akan dibina menjadi prajurit yang perkasa. Bahkan merek ayang telah berusia 20 tahun, wajib baginya mengucapkan sumpah setia untuk membela tanah air. Masuk menjadi seorang tentara bagi para pemuda pun menjadi sebuah kemutlakan dan larangan kawin juga diberlakukan.
Peraturan yang dianggap telah merampas hak dan keinginan setiap insan untuk membina rumah tangga inilah, yang menyebabkan lahirnya kecenderungan banyak pasangan yang menikah secara diam-diam dan tersembunyi. Dalam kejadian inilah Santo Valentine (Sanit Valentino), bertindak sebagai pembela dan menikahkan banyak pasangan muda-mudi yang saling mencintai.
Perbuatan terlarang ini, pun akhirnya diketahui oleh sang kaisar dan bukan main murkanya. Akhirnya, Santo Valentine dihukum mati dan kepalanya dipenggal oleh algojo sang kaisar hingga akhirnya ia menghembuskan nafasnya yang terakhir tepat pada tanggal 14 Februari. Peristiwa kematian inilah yang kemudian dianggap sebagai momentum sejarah yang harus diperingati.
Pada abad XIV di Inggris da Perancis, hari raya Santo Valentinus dihubungkan dengan cinta romantis yang diyakini bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Hal ini dapat kita jumpai dalam karya sang sastrawan Inggris ternama sekaliber Geoffrey Chaucer yang menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa: For this was sent on Seynt Valentyne's day (Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus). When every foul cometh there to choose his mate (Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya).
Pada zaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka "Valentine" mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad XIV konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London. Roda waktu pun terus bergulir dan kekaburan mengenai kepastian tahun peristiwanya pun terjadi kecuali yang masih teringat adalah tanggal kejadiannya. Bahkan pemaknaan terhadap hari yang dianggap bersejarah ini pun bervariasi berdasarkan tradisi yang berkembang pada masing-masing masyarakat di berbagai tempat.
Menurut catatan sejarah bahwa dalam kurun abad XV dan XVI di Eropa, timbul kencencerungan memperingati hari Valentine dengan serangkaian acara yang didesaian seromantis mungkin. Sebut saja pesta dansa yang digelar, merupakan kesempatan bagia kaum muda mudi untuk menyatakan isi hati dan rasa cintanya dihari yang indah ini.
Dalam perkembangan selanjutnya, simbol modern dari Valentine terkarakterisasi dalam wujud kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Sejak abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. Karena itu, The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) menaksir bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirimkan per tahun. Perayaan Hari Valentine pun dianggap sebagai hari raya terbesar kedua setelah Natal dengan menjadikan ukuran banyaknya jumlah kartu-kartu ucapan yang dikirim.
Di Amerika Serikat sejak pada paruh kedua Abad XX, tradisi bertukaran kartu antara pria dan wanita menjadi sangat ramai termasuk di antaranya pemberian segala macam hadiah. Sebut saja bunga yang kerap dijadikan buah tangan adalah jenis mawar dan tidak jarang pula ada yang menjadikan cokelat sebagai hadiah. Sekadar digambarkan bahwa kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal di negara ini setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 - 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima.
Peringatan Hari Valentine kemudian tidak hanya menyuburkan industri kartu ucapan, akan tetapi sejak era 1980-an industri berlian ikut ambil bagian. Maksudnya, bahwa industri ini ikut mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan. Demikian pula jenis perhiasan lain dan benda-benda berharga yang dapat dijadikan sebagai hadiah atau kado.
Sebuah contoh dapat dikemukakan antara lain, di Jepang Hari Valentine muncul karena marketing besar-besaran. Pada hari yang dianggap romantis ini, para wanita memberikan teman pria mereka sejumlah permen cokelat. Meskipun demikian, hal yang menarik dari tradisi ini ini yakni pemeberian cokelat tersebut tidak dilakukan secara sukarela tetapi sebuah kewajiban terutama yang dituntut adalah mereka yang bekerja di kantor-kantor.
Sebagai suatu kewajiaban, maka mereka tidak tanggung-tanggung memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka dengan harga yang ditaksir cukup mahal. Cokelat ini disebut sebagai Giri-choko, dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat). Satu bulan kemudian yakni 14 Maret adalah hari balasan yang juga akrab disebut “Hari Putih”(White Day) tiba. Pada hari inilah para pria yang sudah mendapat cokelat pada hari Valentine sebulan yang lalu, diharapkan memberi sesuatu kembali.
Di Indonesia sendiri, budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih juga telah menjadi tradisi dan kegemaran sejak lama. Bahkan tradisi yang berasal dari daratan Eropa ini, tampak telah menjadi budaya populer di kalangan anak muda. Bahkan hari kasih sayang yang awalnya dirayakan sebagai momentum berbagi berbagi kasih dengan pasangan, orang tua, orang-orang yang kurang beruntung secara materi, dan anjangsana ke berbagai panti asuhan, pun telah mengalami pergeseran nilai.
Di tangan kaum muda (generenasi sekarang) Valentine’s Day tampak mengalami disorientasi makna, sehingga tidak jarang peringatan hari yang dianggap bersejarah ini dilakukan dengan serangkaian acara yang tidak terpuji. Bahkan ada yang telah “menuduh” peringatan hari yang romantis ini sebagai paket misi agama tertentu yang dikemas dalam produk tradisi, padahal secara historis hari kasih sayang ini telah mengakar secara integratif dalam masyarakat lintas agama.
Apakah tradisi peringatan Hari Valentine yang telah mengalami disorientasi makna ini harus dianggap sebagai berhala modernitas yang harus disingkirkan secara eliminatif dalam kehidupan kita?. Saya kira tidak harus, sebaliknya tetap merawatnya sebagai sebuah warisan sejarah dengan mengembalikannya pada makna sesuai tradisi aslinya.**
Secara historis Valentine's Day (hari Valentine) yang jatuh pada 14 Februari, merupakan sebuah hari dimana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan isi hatinya. Tradisi warisan masyarakat Dunia Barat ini, diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk "Valentines".
Peringatan Hari Valentine awalnnya merupakan tindak penghormatan atas jasa seseorang bernama Santo Valentine. Beliau adalah seorang pastor yang hidup di tengah kekuasaan Kaisar Claudius II di Romawi yang terkenal sangat kejam. Dalam menjalankan rezim otoriter yang dipimpinnya, konon sang kaisar sangat mementingkan kekuatan militer tangguh.
Untuk kepentingan itulah maka para pemuda dianggap sebagai aset yang akan dibina menjadi prajurit yang perkasa. Bahkan merek ayang telah berusia 20 tahun, wajib baginya mengucapkan sumpah setia untuk membela tanah air. Masuk menjadi seorang tentara bagi para pemuda pun menjadi sebuah kemutlakan dan larangan kawin juga diberlakukan.
Peraturan yang dianggap telah merampas hak dan keinginan setiap insan untuk membina rumah tangga inilah, yang menyebabkan lahirnya kecenderungan banyak pasangan yang menikah secara diam-diam dan tersembunyi. Dalam kejadian inilah Santo Valentine (Sanit Valentino), bertindak sebagai pembela dan menikahkan banyak pasangan muda-mudi yang saling mencintai.
Perbuatan terlarang ini, pun akhirnya diketahui oleh sang kaisar dan bukan main murkanya. Akhirnya, Santo Valentine dihukum mati dan kepalanya dipenggal oleh algojo sang kaisar hingga akhirnya ia menghembuskan nafasnya yang terakhir tepat pada tanggal 14 Februari. Peristiwa kematian inilah yang kemudian dianggap sebagai momentum sejarah yang harus diperingati.
Pada abad XIV di Inggris da Perancis, hari raya Santo Valentinus dihubungkan dengan cinta romantis yang diyakini bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Hal ini dapat kita jumpai dalam karya sang sastrawan Inggris ternama sekaliber Geoffrey Chaucer yang menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa: For this was sent on Seynt Valentyne's day (Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus). When every foul cometh there to choose his mate (Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya).
Pada zaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka "Valentine" mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad XIV konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London. Roda waktu pun terus bergulir dan kekaburan mengenai kepastian tahun peristiwanya pun terjadi kecuali yang masih teringat adalah tanggal kejadiannya. Bahkan pemaknaan terhadap hari yang dianggap bersejarah ini pun bervariasi berdasarkan tradisi yang berkembang pada masing-masing masyarakat di berbagai tempat.
Menurut catatan sejarah bahwa dalam kurun abad XV dan XVI di Eropa, timbul kencencerungan memperingati hari Valentine dengan serangkaian acara yang didesaian seromantis mungkin. Sebut saja pesta dansa yang digelar, merupakan kesempatan bagia kaum muda mudi untuk menyatakan isi hati dan rasa cintanya dihari yang indah ini.
Dalam perkembangan selanjutnya, simbol modern dari Valentine terkarakterisasi dalam wujud kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Sejak abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. Karena itu, The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) menaksir bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirimkan per tahun. Perayaan Hari Valentine pun dianggap sebagai hari raya terbesar kedua setelah Natal dengan menjadikan ukuran banyaknya jumlah kartu-kartu ucapan yang dikirim.
Di Amerika Serikat sejak pada paruh kedua Abad XX, tradisi bertukaran kartu antara pria dan wanita menjadi sangat ramai termasuk di antaranya pemberian segala macam hadiah. Sebut saja bunga yang kerap dijadikan buah tangan adalah jenis mawar dan tidak jarang pula ada yang menjadikan cokelat sebagai hadiah. Sekadar digambarkan bahwa kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal di negara ini setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 - 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima.
Peringatan Hari Valentine kemudian tidak hanya menyuburkan industri kartu ucapan, akan tetapi sejak era 1980-an industri berlian ikut ambil bagian. Maksudnya, bahwa industri ini ikut mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan. Demikian pula jenis perhiasan lain dan benda-benda berharga yang dapat dijadikan sebagai hadiah atau kado.
Sebuah contoh dapat dikemukakan antara lain, di Jepang Hari Valentine muncul karena marketing besar-besaran. Pada hari yang dianggap romantis ini, para wanita memberikan teman pria mereka sejumlah permen cokelat. Meskipun demikian, hal yang menarik dari tradisi ini ini yakni pemeberian cokelat tersebut tidak dilakukan secara sukarela tetapi sebuah kewajiban terutama yang dituntut adalah mereka yang bekerja di kantor-kantor.
Sebagai suatu kewajiaban, maka mereka tidak tanggung-tanggung memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka dengan harga yang ditaksir cukup mahal. Cokelat ini disebut sebagai Giri-choko, dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat). Satu bulan kemudian yakni 14 Maret adalah hari balasan yang juga akrab disebut “Hari Putih”(White Day) tiba. Pada hari inilah para pria yang sudah mendapat cokelat pada hari Valentine sebulan yang lalu, diharapkan memberi sesuatu kembali.
Di Indonesia sendiri, budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih juga telah menjadi tradisi dan kegemaran sejak lama. Bahkan tradisi yang berasal dari daratan Eropa ini, tampak telah menjadi budaya populer di kalangan anak muda. Bahkan hari kasih sayang yang awalnya dirayakan sebagai momentum berbagi berbagi kasih dengan pasangan, orang tua, orang-orang yang kurang beruntung secara materi, dan anjangsana ke berbagai panti asuhan, pun telah mengalami pergeseran nilai.
Di tangan kaum muda (generenasi sekarang) Valentine’s Day tampak mengalami disorientasi makna, sehingga tidak jarang peringatan hari yang dianggap bersejarah ini dilakukan dengan serangkaian acara yang tidak terpuji. Bahkan ada yang telah “menuduh” peringatan hari yang romantis ini sebagai paket misi agama tertentu yang dikemas dalam produk tradisi, padahal secara historis hari kasih sayang ini telah mengakar secara integratif dalam masyarakat lintas agama.
Apakah tradisi peringatan Hari Valentine yang telah mengalami disorientasi makna ini harus dianggap sebagai berhala modernitas yang harus disingkirkan secara eliminatif dalam kehidupan kita?. Saya kira tidak harus, sebaliknya tetap merawatnya sebagai sebuah warisan sejarah dengan mengembalikannya pada makna sesuai tradisi aslinya.**
Langganan:
Postingan (Atom)
